Sejarah Kelurahan Tegalharjo

 

Dalam sejarah, pada waktu pemerintahan SISKS Pakoe Boewono ke III, seorang abdi dalem kinasih yang bernama Raden Mantri WOngso Nagoro yang bermakna Priyayi Unggulaning Nagara.

Pada masa itu sekitar tahun 1809 pada masa penjajahan Belanda, Raden Mantri Wongso Nagara yang bertempat tinggal di Kampung Wongso Negaran yang sekarang bernama Kepatihan Wetan dan Kepatihan Kulon, karena beliau dipercaya oleh SISKS PB ke III untuk mengelola tanah keraton di sekitar Wongso Negaran tersebut yang masih berwujud Tegalan/Kebun kering, oleh Kiai Wongso Nagara tanah tersebut dikelola dan dijadikan perkebunan, seiring berjalannya waktu dalam kurun waktu yang relatif singkat tanah tegalan yang dulunya gersang dan kering kerontang berubah menjadi tanah tegalan yang subur dan hijau royo-royo.

Maka atas keberhasilan Kiai Wongso Nagara tersebut, Sinuwun berkenan tedak/hadir untuk menyaksikannya dank arena melihat kenyataan demikian adanya sebutan TegalharjoTegal artinya kebun kering, harjo artinya rejo atau makmur yang membuat karaharjan/kebahagiaan karena membuahkan hasil bumi yang melimpah. Maka sampai sekarang tersebutlah sebagai nama kampong dan pada akhirnya seiring dengan perjalanan waktu, sejak berdirinya Pemerintahan Daerah Tingkat II Surakarta pada tanggal 16 Juni 1945 nama kampong tersebut menjadi nama salah satu Kelurahan di Kota Surakarta yaitu Kelurahan Tegalharjo hingga sekarang ini.